Menjadi Ibu Rumah Tangga Penuh
Written on 05/19/2011
[Foto: VisualPhotos]Menjadi ibu rumah tangga penuh masih saja menjadi pro dan kontra hingga hari ini. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju dan banyak yang malu-malu mengakui pendapatnya. Tapi yang pasti, menjadi ibu rumah tangga penuh tidaklah semudah yang diduga orang [apalagi yang belum pernah merasakan jadi ibu].
Memang, tinggal dirumah saja membuat kita punya beberapa waktu disepanjang hari untuk rileks, tidak ada bos yang akan mengecek apakah kita hadir tepat waktu dan kembali ke kantor pada jamnya sehabis makan siang, tapi tetap tidak sederhana itu lho! Yang terjadi setiap harinya malah mengurus rumah tangga itu jadi pekerjaan 24/7 yang minim jam istirahat.
Mereka yang kontra untuk tetap dirumah sebagai ibu rumah tangga mengeluhkan kurangnya waktu untuk berkembang dan bersosialisasi, sebab yang ada dirumah biasanya hanya pembantu/asisten (kalau ada), bahkan tidak jarang hanya berdua saja dengan seorang bayi atau balita yang belum fasih berbicara.
Kebanyakan, mereka ini merindukan kehadiran teman-teman sesama orang dewasa untuk diajak mengobrol dan berbagi cerita. Padahal, di era internet seperti saat ini, ada banyak sekali pilihan aktivitas bagi para ibu yang mau memilih untuk jadi ibu rumah tangga penuh.
Selain melayani suami, anak-anak, memasak dan memastikan kondisi rumah beres kita bisa memanfaatkan internet untuk bersosialisasi, membangun komunitas online, beramal, bahkan berbisnis.
Saya sendiri menggunakan internet untuk menjalankan sebuah bisnis MLM online yang berafiliasi pada Oriflame bersama satu tim pendukung bisnis yang bernama dBC-Network. Melalui facebook dan twitter saya membangun komunitas sosialisasi dan via email dan chatroom saya aktif berkomunikasi. Lainnya, melalui blog, saya bisa menuliskan berbagai isi kepala saya dan berbagi.
Oya, mereka yang pro dengan karir sebagai ibu rumah tangga penuh biasanya mempertimbangkan faktor pengasuhan anak. Mereka ini adalah golongan yang berpendapat bahwa sebaiknya anak-anak dibawah pengawasan dan pengasuhan ibunya langsung, mengkonsumsi makanan sehat yang dimasak oleh bundanya dan setiap saat bisa bermain dan dididik oleh sang ibu. Saya termasuk dalam golongan ini. Inilah yang membuat saya bertekad bulat keluar dari kantor saat menjelang melahirkan Danish, putra pertama saya, hampir lima tahun lalu.
Saya yakin bahwa hampir semua ibu sangat ingin berada dekat dengan anak-anaknya. Mengasuh dan bermain sepanjang waktu dengan mereka. Memasak untuk mereka dan setiap waktu bisa memeluk saat anak-anak jatuh atau menangis karena sebab-sebab lain.
Tapi saya juga paham bahwa keputusan untuk mengundurkan diri dari kantor tidak selalu mudah. Butuh pemikiran dan pertimbangan yang masak. Selain itu, butuh kepastian pendapatan dari sektor lain yang minimal setara dengan gaji dari kantor saat ini.
So, bila ada diantara Anda punya impian seperti itu, kenapa tidak mempersiapkannya. Carilah bisnis sampingan yang bisa dilakukan secara online atau paruh waktu sehingga dalam dua-tiga tahun ke depan saat usaha yang dirintis sudah berkembang, para bunda pembaca mulai bisa mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dan meraih impian jadi ibu rumah tangga penuh yang berpenghasilan.
Susah? Iya… tapi bukannya tidak mungkin bukan?
Selamat menimbang-nimbang dan mengambil keputusan!
:: Andinie -I’m home and make money!
Filed in: Personal Life.

